Persahabatan Kami




Karena semesta tak mungkin berbisik dan memberikan jalan secara telanjang, maka aku memilih takdirku sendiri. Aku menggenggamnya sebagai sahabatku. 

Dia yang datang saat purnama ke delapan di malam itu. Dengan segala tingkah dan suasana yang mengharu biru, kami mampu bersatu. Disetiap banyaknya pertanyaan, mungkin ada satu atau dua hal yang belum terjawab. Namun, apakah itu penting bagi kami? Tidak sama sekali. 

Dia penyuka segala macam warna, sedang aku pembenci warna. Dan hitam adalah simbol bagiku sebagai seorang pendendam. Apakah itu memberi jarak bagi kami? Aku rasa tidak.

Pernah sesekali bulan memerah. Mengurung kami dalam sebuah kebisuan yang nyata. Waktu melambat seakan menenggelamkan kata-kata yang hanya mampu terbungkam dalam cerita. Dan jalan yang kami pilih, menulis.

Sebuah cerita-cerita baik karangan atau pengalaman. Semua kami torehkan dalam tulisan. Di mana ada kami sebagai tuhan kecil di sebuah kisah yang kami rangkai. Dan, karena itu pula kami bertemu. Apakah kita sahabat? Bisa saja sejak itu. 

Tak ada yang menghendaki satu sama lain berpisah. Mungkin kami enggan. Ikatan yang terangkai terlalu menghanyutkan kami ke dalam dasar kenyamanan. Dan kami lupa, bahwa sebelum ini, kami adalah dua insan yang belum mengenal satu sama lain. Benarkan?


Probolinggo, 08 Januari 2018


Comments

Popular posts from this blog

Resensi Gustira

Resensi Novel 'Love In Twilight'

Resensi Sunyi di Dada Sumirah