Aku Benci Kamu, Bunga!





Aku benci semua hal yang menjatuhkan. Semua orang yang hanya memakai topeng hanya akan aku lirik, tanpa aku hampiri. Jangan mendekati sebuah jurang bila kau tak ingin terjatuh. Apalagi saat di belakangmu ada seroang musuh dalam balik kata teman. Itu adalah pelajaran yang aku dapatkan.
Dan mari kita lihat bagaimana Bunga yang dengan centilnya mendekati lelaki itu. Lelaki yang kemarin sudah aku patenkan untuk mendapatkan hatiku. Seseorang yang aku anggap sahabat, tempat berbagi suka dan duka, malah tengah bermain api di belakangku.
“Cinta itu bisa dibagi, kok,” ujar Bunga dengan nada manjanya. Tangannya yang nakal mulai berani meraba dada bidang lelaki yang sejak tadi hanya bisa diam kaku.
Dia lelaki yang mungkin masih awam dengan sentuhan-sentuhan seorang wanita. Sepertinya lelaki itu memang belum terbiasa dengan kedekatan yang Bunga berikan. Dan aku memang mencintai lelaki itu karena sikap polosnya yang beda dengan yang lain.
“Kamu hanya perlu mencoba dan aku yakin kamu akan berbalik mencintaiku,” ujar Bunga lagi.
Setelah lama terdiam, kali ini lelaki itu balas memandang manik mata milik Bunga. Bunga memiliki mata yang bulat dengan bulu mata lentiknya. Bibir semerah darah dan kulit seputih salju. Dia memang adalah bentuk dari bidadari dunia.
“Mau kamu apa?”
Bunga tersenyum penuh kemenangan. Dia semakin merapatkan diri pada lengan sang lelaki, kemudian berbisik lirih, “aku mau kamu dan cintamu.”
“Bagaimana dengan sahabatmu?”
“Bisa diatur belakangan,” jawabnya dengan kerlingan nakal.
Dan mereka berdua seperti kucing-kucing yang sedang kawin. Berisik dan mendengungkan. Aku melengos. Sudah cukup bersembunyi di balik pohon dan mendengar semua kenyataan bahwa air yang tenang bisa saja membahayakan. Bahwa sahabat yang mendukungmu, bisa juga mendorongmu terjatuh.
“Bunga, terima kasih atas arti persahabatn sebenarnya,” ucapku dengan senyum sinis sembari memasukkan alat perekam yang sejak tadi on.

Probolinggo, 12 Januari 2019

Comments

Popular posts from this blog

Resensi Gustira

Resensi Novel 'Love In Twilight'

Resensi Sunyi di Dada Sumirah