Kata yang (tak) Sempat Terucap




“Sebenarnya aku memiliki 3 permintaan. Apa kamu bisa mengabulkannya?”
Sika diam. Ia masih menatap sahabatnya dalam. Meski begitu, semua orang tahu ada tatapan penuh arti yang coba Sika berikan pada Dika. Dan Biarkan hanya Dika yang tahu arti tatapan tersebut.
“Apa permintaan kamu?” tanya Sika. Ia biarkan saja saat tangan kokoh Dika merangkulnya. Mungkin ini akan menjadi rangkulan terakhir mereka.
“Pertama, aku ingin kamu bahagia.”
“Pasti,” jawab Sika cepat. Ia tersenyum hingga lesung pipi kanannya terlihat yang semakin menambah manis dirinya.
“Kedua, aku ingin kamu memiliki keluarga yang kamu sayang, seperti aku yang menyayangimu.” Ucapan ini membuat Dika dan Sika sama-sama terdiam. Ada sebuah luka dan harapan yang muncul bersamaan dalam hati masing-masing.
Hidup di sebuah rumah tanpa tahu siapa kedua orang tua masing-masing adalah sebuah kesialan yang tak pernah mereka harapkan. Tidak. Tak seorang pun ingin bertukar posisi dengan mereka.
Dika, lelaki yang dua puluh tahun lalu ditemukan di depan gerbang panti. Hanya dengan selembar kertas bertuliskan permohonan maaf dan sebuah nama untuk dirinya. Saat itu yang Dika tahu bahwa keluarganya tak bisa membesarkan dirinya tanpa sebuah alasan yang jelas.
Sedangkan Sika. Anak yang katanya hasil hubungan gelap seorang pejabat negara dengan seorang janda. Setelah kedua orang tuanya di arak keliling kampung saat ditemukan kumpul kebo, sang Ibu diasingkan sedangkan Pejabat tersebut lepas karena kekuasaan dan uang. Tak ingin menanggung malu, Ibu tersebut selalu mencoba menggugurkan kandungannya. Namun, takdir memang ingin Sika lahir. Meski dalam kebencian sang Ibu dan dibuang ke panti yang sama di mana sudah ada Dika di sana.
Nasib yang hampir sama. Meski semua anak di sini jelas memiliki cerita yang sial menurut masing-masing. Dan pada hari ini, saat Sika harus pergi meninggalkan Dika. Pergi dan memulai kisah yang baru dengan keluarga yang baru dan akan menerima Sika dengan kasih sayang. Lantas Dika bisa apa selain mendoakan?
“Permintaan ketiga?” tanya Sika yang bisa membuyarkan lamunan Dika.
Dika tersenyum. Ia beralih mengusap pipi Sika dengan sayang. “Permintaan terakhir biar aku yang simpan. Karena permintaan ini tidak akan pernah terkabul.”
“Loh, kok gitu?” protes Sika mengembungkan pipinya.
Dika hanya tersenyum. Ia memilih menikmati semua yang masih bisa ia pandang saat ini. Bagaimana merah bibir itu, kulit kuning langsat yang selalu bercahaya, dan rambut hitam legam yang selalu dibiarkan terurai. Esok, Dika paham bahwa apa yang ia pandang sekarang tak akan bisa ia nikmati lagi.
Meski begitu, Dika akan menandai waktu ini. Waktu yang menjadi awal kisah mereka masing-masing, bukan berdua.
***
“Di dunia ini tidak semua kata harus terucap dengan lugas. Ada yang diteriakkan nyaring, berbisik, dan ada pula yang hanya dipendam sendiri.”
“Dan kamu memilih yang terakhir?”
“Eh’em. Aku memilih mengucapkannya lewat hati. Karena aku tahu bahwa terucap atau tidaknya ini, tidak akan pernah mengubah keadaan. Dan aku tak ingin apa yang aku keluarkan percuma.”
“Kamu memang aneh, ya! Andai kamu berbicara dari awal pada Sika tentang cintamu, aku yakin Sika tak akan meninggalkanmu seperti ini. Apalagi sekarang dia sudah menikah.”
Dika hanya tersenyum. Ya, mungkin jika dulu ia berani dan berbicara lebih dulu pada Sika, wanita itu tak akan meninggalkannya. Dan mungkin juga ia memiliki kesempatan lebih. Namun...
“Bagaimana kalo jodoh Sika memang lelaki itu? Aku bisa apa?”
Sekali lagi, Dika mencoba berpikir jernih. Yah, sekuat apapun ia berusaha, tetap saja semesta yang akan menentukan. Bukan ia, bukan Sika, bukan cinta, maupun penyesalannya.
“Jika orang-orang selalu menghindari penyesalan. Maka aku sangat menghormatinya. Karena penyesalan adalah kerja sama antara takdir dan hati,” bisik Dika.
Sedangkan Dito, kawan kerjanya hanya bisa diam dan coba memahami. Ia belum pernah berada di situasi yang rumit seperti Dika, tetapi bila ia berada dalam keadaan seperti itu, ia tak yakin akan berperilaku sama.

Selesai.
Probolinggo, 12 12 2018

Comments

Popular posts from this blog

Resensi Gustira

Resensi Novel 'Love In Twilight'

Resensi Sunyi di Dada Sumirah