Esok, Kematian (tak) Terduga



Dia adalah wanita yang lahir dari cemoohan warga. Tanpa bapak, ia lahir yatim di tengah gemuruh masa. Saat hati memanas penuh amarah, Ika lahir dengan kekurangan yang tak dapat dipulihkan.

Setiap hari, kala waktu kembali berotasi, hanya isak tangis Ika yang terdengar di sudut kamarnya. Kulitnya memerah dengan bekas-bekas pukulan di paha dan lengannya.

"Ibu, sakit," lirih Ika sambil sesegukan menahan sesak. Raganya sudah lelah. Kaku sekujur tubuhnya setiap melihat bayang-bayang sang ibu yang mendekat

Ika lahir dari kebencian dan dendam ibu kandungnya. Kelahiran yang bersamaan dengan kematian sang ayah membuat Ika menanggung seluruh kemurkaannya.

"Dia anak pembawa sial, kamu jangan main sama dia."

"Tapi, Ma. Ika baik kok."

"Kalo Mama bilang jangan, iya jangan. Lihat saja jarinya hanya 8. Cacat. Ayahnya meninggal saat ia lahir. Kamu mau terbawa sial juga?"

"Nggak, Ma."

Selalu seperti itu. Setiap Ika lewat, hardikan anak sial melekat dalam dirinya. Jari-jari tangannya yang cacat, tak seperti orang normal lainnya.

Sang ibu bahkan tak menaruh sedikit pun perasaan iba pada dirinya. Hanya picingan mata dengan tatapan angkuh. Ika tahu, kelahirannya adalah bentuk kesia-siaan hidup. Tak ada kegunaan ia bernapas di dunia ini.

Lahir cacat dengan kebencian sang ibu, sudah cukup mengiris hatinya.

Ika berjalan pelan di sepanjang jembatan gantung. Tatapan kosong dengan kenangan yang berputar bersamaan semilir angin. Pukulan, teriakan, makian, cemoohan, dan segala kutukan menyakitkan.

Adakah yang lebih keji lagi dari hidupnya?
Air di bawah tampak tenang. Mungkin di bawah sana, ikan-ikan bersorak memanggilnya. Ada sebuah dorongan untuk datang dan berenang dengan ikan di bawah sana. Setidaknya, mereka tak memiliki jari dan tak mungkin mencemoohnya.

"Bu, Ika ingin berenang."

Ika tidak bunuh diri. Dia hanya ingin lari dari teriakan dan segala kebencian orang di sekitarnya. Dengan sekali tarikan napas, Ika meloncat dan berkumpul dengan ikan-ikan di bawah sana.

Dan mungkin ini adalah waktu di mana Ika tak mendengar celaan dari sekitar. Tak ada panggilan pembawa sial, cacat, dan lain-lain. Bahkan Ika pun tak perlu lelah menangis dan menanyakan sampai kapan ia bernapas. Sekarang, Ika tak butuh udara lagi. Ia hanya perlu berenang mengikuti arus air bersama ikan-ikan.

Ika kaku tanpa napas.
Dan kematian, memang (tak) pernah terduga sebelumnya.
Semoga tenang, Ika
Berenanglah hingga ke muara
Di mana kau bahagia

Probolinggo, 30 12 2018

Comments

Popular posts from this blog

Resensi Gustira

Resensi Novel 'Love In Twilight'

Resensi Sunyi di Dada Sumirah