Dan, Kami adalah Penjuru Mata Angin



Mereka adalah keajaiban-keajaiban yang terjebak dalam sebuah ikatan tak kasat mata. Mereka adalah insan-insan dengan kekuatan yang tak mampu ditandingi oleh siapapun.

Kerap beberapa kali, badai seakan menerjang dan meruntuhkan segala ikatan yang mereka kukuhkan. Namun, dengan sekali hembus, badai itu surut. Kalah pada sebuah perasaan yang menyatu antara mereka.

Mereka adalah takdir yang ditentukan langit untuk bersatu. Dengan kekuatan masing-masing, mereka menjadi lebih kuat dan tak terkalahkan.

Mereka bukan pusat bumi. Namun, penjuru mata angin yang tersebar dan mengokohkan sebuah rumah yang berpondasi cinta dan kasih sayang. 


Mereka hanya insan-insan yang lahir dari tangis haru keluarga masing-masing. Namun, dalam waktu yang tak dapat direncanakan, mereka bersatu untuk bangkit bersama.

Bagai elemen dalam sebuah kekuatan. Iya, mereka adalah elemen kekuatan dalam hidup 

Dia adalah Yuanda Isha. Mata angin di Tanjung Pinang. Wanita Desember dengan segala ketegaran hidupnya. Pantang menyerah dari cekikan dunia. Ia tetap kokoh berdiri sebagai penguat yang lain.

Di jarak berkilo meter lainnya, Blitar. Lahir lelaki pertama dalam hubungan keluarga ini. Seseorang penasehat dan penengah dari segala masalah yang ada. Dia adalah si pondasi penegak dan pelindung dari berbagai ancaman. Andik Prasetya ( Jon Blitar )

Sedang di Bontang. Wanita berdagu lancip. Mata bulat dengan tawanya yang khas. Menjadi seorang wanita yang kuat melebihi baja. Dia adalah si berani dari lainnya, Ellis Purnama Sari

Tanggerang dan segala kelembutannya. Seorang ibu sekaligus isteri yang sholeha. Ia bagai angin sejuk kala udara memanas. Ada sebuah ucap yang selalu didengar bersama. Dia adalah penasehat yang menyejukkan dan pemilih jalan di antara persimpangan, Sutianah.

Sidoarjo, kota cantik dengan wanita paling cantik dalam keluarga ini, Fitri Niswani. Wanita berelemen air dengan suara lemah lembutnya. Pusat kesabaran dan pendinginan dari sebuah amarah yang tak sengaja terpercik di antara kami. Dengan sabar, ia rangkul sebuah kasih sayang untuk kembali bersama.

Di penjuru lainnya. Mata angin yang menunjuk ke arah Timur. Probolinggo menjadi tempat kelahiran bagi seorang gadis belia. Dia adalah elemen paling muda di antara yang lain. Labil dengan segala sifat yang belum stabil. Namun, hidup adalah belajar. Dan dengan berdirinya ia bersama keluarga ini, dia bangkit dan berani bermimpi. Dialah Yani.

Tak lupa, tak akan pernah sedikit kami melupakan elemen satu dengan yang lainnya. Terutama elemen tambahan yang baru bergabung dengan keluarga ini. Andai dia adalah vampir baru, mungkin dia adalah seorang yang kuat dan tegas. Namun, dia bukan vampir. Dia adalah seorang ayah yang menempati posisi lain di pertemuan titik mata angin. Jumhari, Kakak pertama yang lahir dengan kesabaran dan lapang dadanya.

Mereka adalah kasih sayang yang selalu mengait bagai hubungan tali rantai
 
Dan mereka bukan sekadar ingatan yang akan hilang oleh rotasi waktu. Mereka adalah kekekalan dalam hati dan jiwa masing-masing. 

Dan mereka adalah keluarga dari rumah Komunitas Sastra Nusantara. 


Probolinggo, 31 Desember 2018
Dalam rangka harapan untuk keluarga tersayang 

Comments

  1. Hantaran yang sangat apik
    Suka banget goresan setiap unsur yang melekat pada diri setiap keluarga KSN.

    Salut dan bangga .

    ReplyDelete
  2. Sip. Salam kenal juga buat Yani ya dari Pilo Poly. Berkunjung juga ke webku di pilopoly.com kalau ada waktu.

    ReplyDelete
  3. Sip. Salam kenal juga buat Yani ya dari Pilo Poly. Berkunjung juga ke webku di pilopoly.com kalau ada waktu.

    ReplyDelete
  4. Penjabaran yang keren. Semoga kekal 🖒🖒🖒

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Resensi Gustira

Resensi Novel 'Love In Twilight'

Resensi Sunyi di Dada Sumirah