Andai Menunggu seenak Mengantri Bakso Solo.

Yani, Just it


Probolinggo tempo sekarang, di mana banyak sekali gerobak bakso berkeliaraan. Bahkan dibeberapa simpang jalan juga mulai tercecer penjual bakso yang dengan mudah kita temui. Dari harga yang terjangkau, hingga harga yang bisa dibilang fantastis.

Aku mulai mengenal Probolinggo dan baksonya saat usia dua belas tahun. Saat dengan murah hatinya, seorang guru mengajakku menyantap semangkok bakso dengan gerobak bertulis 'Bakso Solo'. Hal pertama yang terlintas dalam benak adalah, "wah, tanpa ke Solo aku sudah bisa makan baksonya." Sungguh naif dengan pemikiran seperti itu.

Namun, kawan! Di sini aku tak mau bercerita tentang bagaimana rasa baksonya, seberapa besar bakso tersebut, atau harganya. Di sini aku ingin menceritakan perihal menunggu. Menunggu bakso yang masih mentah hingga matang. Hal inilah yang menjadi filosofi ku.

Kalian tahu arti dari menunggu? Menunggu adalah bersabar karena sesuatu yang terbaik tengah disiapkan. Sama halnya saat aku menunggu bakso, aku bersabar menunggu hingga bakso bisa siap kita santap. Bagaimana bila kita tidak sabar? Maka bakso tidak akan dihasilkan dengan sempurna. Bisa jadi setengah matang atau malah mentah.

Begitulah hidup kawan! Kita menunggu untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Jangan terburu-buru dalam menginginkan sesuatu. Ada kalanya kita harus duduk, mengamati dan meresapi bagaimana lingkungan kita berjalan sembari menunggu tersebut

Aku berbicara, andai menunggu seenak mangantre bakso Solo, jelas semua orang akan menunggunya sembari mengobrol dengan teman, berbincang-bincang, melihat bagaimana bakso di masak, atau menhirup aroma bakso yang tercium. Nah, kenapa dalam menunggu sesuatu kita tidak bisa seperti itu. Misal, kita menunggu datangnya cinta. Mengeluh, ingin cepat datang, bahkan menghujat pada semesta. Dan saat semesta lelah mendengar keluhanmu, datanglah cinta. Dan terima saja bila cinta itu seperti bakso yang masih setengah jadi atau bahkan mentah.

Jadi, itulah filosofi yang harus aku terapkan dalam hidup. Kenapa aku memilih bakso Solo? Karena dibalik rasanya yang enak, bakso Solo memiliki kisah lain di dalamnya. Tersimpan haru, arti hidup dan lain sebagainya.

Probolinggo, 04 12 2018

Comments

Popular posts from this blog

Resensi Gustira

Resensi Novel 'Love In Twilight'

Resensi Sunyi di Dada Sumirah