Pesan dan Kesan Mengikuti Wicha FLP se-Jatim




Tergabung dalam organisasi Forum Lingkar Pena Probolinggo jelas adalah sebuah kebahagiaan tersendiri bagi saya. Dalam hati saya berniat untuk turut andil dalam acara dan kegiatan yang diadakan oleh FLP tersebut. 

Hingga saat beberapa kali aktif dalam kegiatan FLP Probolinggo, ketua FLP Probolinggo yang saat ini adalah Kak Rully memberikan informasi terkait adanya program WiCha (Writting Challenge) dan RC (Reading Challenge). 

Mengingat saat itu saya sedang fokus menulis dan jadwal membaca belum beraturan, saya putuskan untuk mengikuti WiCha. Pertama kali di mana perjalanan dalam tantangan menulis di WiCha dimulai.

Beberapa kelas dan cerita suka duka di kelas tersebut.

1. Premiere WiCha : kelas pertama yang menyapa di WiCha. Dengan waktu 30 Hari di mana setiap hari diwajibkan setor jumlah kata yang ditulis, saya merutinkan diri untuk menulis dan setor. Karena dilihat dari beberapa pengalaman teman sekelas, mereka rutin nulis, tapi lupa setoran. Dengan wali kelas Bu Sridaningsih, di sana saya lebih mengenal teman-teman FLP se-Jatim dan sekaligus teman baru

2. Junior WiCha (Kelas Kedua). Kelas ini cukup menantang. Dengan jangka waktu 40 hari, di mana setiap 8 hari diharuskan menulis tulisan bertema baik berupa puisi, cerpen, artikel, dll. Dari kelas ini pun saya belajar menulis artikel, karya yang belum saya kuasai.

3. Senior WiCha (Kelas Ketiga). Kelas di mana saat ini saya berada dan bersiap-siap untuk naik kelas (amin). Dengan jangka waktu 50 hari di mana jumlah kata yang disetor tiap hari pun lumayan banyak, 700 kata. Dengan tantangan tambahan setiap 7 hari sekali membuat tulisan bertema dan mengirimkan karya ke media baik cetak maupun online. Tantangan di sinilah yang menurut saya berhasil membuat saya panas dingin. Karena di kelas ini, selain dari 3 peserta dan tersisa saya sendiri, tema yang diangkat lumayan berat dan kadang harus rela saya lewati. Detik-detik berjuang sendiri yang harus segera saya akhiri. Berjuang sendiri rupanya sangat sepi. 

Kelas selanjutnya, masihkah bisa bertahan? Why not. Kelas Super WiCha, tunggu saja! 

Semoga program WiCha ini terus berjalan dan semakin bisa membantu penulis untuk merutinkan diri menulis setiap hari. Saya pribadi memang sangat terbantu dengan adanya kelas WiCha ini. Karena baik beberapa novel dan Cerpen yang saya terbitkan adalah hasil rutin nulis baik di WiCha dan sebelumnya. 


Inilah kesan dan pesan yang saya alami selama di WiCha. Semoga ke depannya dengan tantangan baru dan lebih menantang, saya bisa menjadi alumnus WiCha dengan lancar. Dan ada baiknya jangan sampai tertinggal kelas meski hanya sekali. 

Comments

Popular posts from this blog

Resensi Gustira

Resensi Novel 'Love In Twilight'

Resensi Sunyi di Dada Sumirah