Pasang Surut Layaknya Ombak Bulan Juni

Yani, Just it


Hidup itu terus dijalani dari hari senin hingga ahad, dari pukul satu hingga kembali lagi ke satu. Selalu seperti itu. Berotasi mengelilingi hal yang sama. Mungkin bila mau diandaikan seperti itulah kami. Rotasi sebuah hubungan yang kami jalani tanpa lelah. Inginnya adalah menelusuri hidup seperti air yang mengalir pasrah. Bertubrukan dengan bebatuan besar, jatuh dari ketinggian beratus meter, hingga kembali lagi ke tempat semula. Bukankah air tak mungkin kembali tanpa melewati segala rintangan? Tidak mungkin ia berbelok semaunya sendiri.

Sebenarnya aku tak mau menulis. Otakku terasa buntu hanya untuk membuat alur tentang kami.  Seperti saat aku membuat kuah sop tanpa garam dan bumbu lainnya, hambar. Itulah yang aku takutkan. Membuat sebuah alur tanpa makna dan tak dapat diterima oleh semua orang yang mungkin secara tidak sengaja menengok cerita ini. Akan tetapi, bukankah aku adalah makhluk yang paling egois? Aku tak peduli –meski sebenarnya agak sedikit takut. Aku hanya akan menulis semau dari jari-jari yang tak pernah lelah memencet huruf-huruf di Komputer.

Seperti inilah alur yang akan saya bawakan untuk mengawali sekaligus bila mungkin mengakhiri cerita kami.

Pagi itu masih musim panas, bila tak salah ingat. Kira-kira sudah 8 tahun silam. Masuk ke dalam sebuah ruangan di mana banyak makhluk baru dan lama yang sudah duduk rapi di dalamnya. Aku memilih duduk di depan, pas berhadapan dengan papan tulis. Tak ada yang special hari itu. Masih dengan tas, seragam dan sepatu yang sama. Seragam putih biru yang melekat sangat pas di badanku. Meliarkan pandangan, mencoba menatap satu per satu manusia yang dalam setahun nanti akan menjalani hari-hari bersamaku, bersama kami. Hingga bergulirnya hari dari Senin ke Selasa, atau Selasa ke Rabu, dst, aku mengenalnya. Lelaki yang sebelumnya tak aku lirik. Hanya sebatas itu dan kami mulai berkenalan.

Hingga di tahun berikutnya, bukankah kenyamanan adalah alasan terkuat untuk tetap bersama? seperti itulah kami. Saat semua orang seakan mengalami seleksi alam, mungkin kami adalah salah satu golongan yang lolos dari seleksi tersebut. Masih bersama dengan sebuah predikat yang lebih dari seorang teman –sahabat. Terbersit sebuah harapan semoga kenyamanan tersebut akan tetap kami rasakan hingga tua nanti. Akan tetapi, harapan itu hanyalah sebuah harapan dari seorang bocah polos yang belum mengerti pasang surut kehidupan. Bila leluhur berkata, belum merasakan asam pahit hidup.

Ombak besar datang. Tahun itu pertama kalinya kami berpisah. Pada saat seragam putih abu-abu mulai melekat dan gedung-gedung yang menjadi tujuan kami mencari ilmu berbeda. Ketidak cocokan mulai terasa kental, perselisihan, bahkan kesalahpahaman mulai kami rasakan. Mungkin, saat itu aku berpikir itu adalah titik balik dari rasa nyaman tersebut, jenuh. Di sinilah jarak mulai tercipta dan waktu mulai berjalan dengan begitu cepat. Sebuah persahabatan seakan dijual pada jarak.

Akan tetapi, takdir siapa yang tahu, iya kan? Saat kamu telah membenci seseorang dan berpikir orang tersebut adalah orang terakhir yang ingin kamu temui, siapa sangka Tuhan membuat hidup kita kembali jungkir balik. Persahabatan yang mulai kami bangun dari awal setalah reda dari perselisihan. Berharap di kemudian hari, kami tak akan mengalami pasang surut kehidupan lagi. Apabila memang harus berselisih, harus ada jalan keluar secepatnya. Bila rasa bosan menyapa, biarkan angin dan waktu yang menghilangkannya.

Tak ada persahabatan murni antara lelaki dan perempuan.

Awalnya mungkin kami tak akan percaya dengan filosofi yang entah siapa yang memprakarsai. Menurut kami, itu hanya bualan dari para novelis dalam tulisan fiksinya. Akan tetapi, kami merasakannya. Saat dimana sebuah getaran yang awalnya seirama, mulai tak beraturan. Saat keringat dingin mulai menjalar di segala tubuh. Dan saat kami mulai menjaga sikap masing-masing. Ada sensasi yang tak mungkin bisa kami jabarkan satu-satu. Saat itu, mungkin kami masih remaja labil yang hanya mengejar kesenangan tanpa berpikir sebuah kesulitan. Berpikir semua hanya sebuah mainan yang bila bosan, bisa ditinggalkan semuanya tanpa berpikir apa itu arti dari sebuah menjaga. Kami terlalu egois dan kekanakan.

Kisah apalagi antara kami? Teman – persahabatan – hubungan labil – bahkan musuh, semua kami lewati dengan berbagai emosi yang memuncak. Saling tuding kesalahan hingga rasa lelah mulai menyapa. Ada jeda di setiap hubungan yang kami jalani. Hingga cerita akan bermonolog tentang aku.

MONOLOG AKU, Setelah Semua Pergi.

Nanti, akan kuceritakan sesuai sudut pandang dan bagaimana kembang kempis perasaan ini. Intinya, alur singkat dan sengaja aku cepatkan untuk mengisahkan bagaimana kami yang telah melalui pasang surut ombak. Aku tak ingin menceritakan semuanya secara gamblang. Karena tulisan ini abadi, hingga nanti di masa masing-masing dari kami memiliki kehidupan masing-masing.  

Ada kisah di dinding jatung
Berdebar kala dirasakan
Sebuah kisah klasik yang tak bertitik, namun selalu koma
Menjalani hari ke hari denga suka dan duka
Ada warna di setiap tangis dan canda
Hingga kamu tahu bagaimana perjalanan sebuah rasa

Probolinggo, 02 Juni 2018



Comments

Popular posts from this blog

Resensi Gustira

Resensi Novel 'Love In Twilight'

Resensi Sunyi di Dada Sumirah