Seputar Menulis dan Penulis

Yani, Just it


Beberapa waktu terakhir ini, kesibukan saya berubah. Dari menulis novel/cerpen menjadi peresensi sebuah buku karya teman-teman penulis. Jelas ini adalah suatu kehormatan bagi saya karena bisa secara langsung menikmati karya teman-teman seperjuangan. Dari beberapa teman dengan bermacam-macam penulis, mulai dari Indie, Mayor atau self publishing ini, saya belajar banyak sekali ilmu yang akan saya bagikan kepada seluruh teman-teman yang membaca artikel kali ini.

Niat yang Menggebu-gebu akan mudah surut bila salah takaran.

Kenapa bisa? Jadi begini ceritanya. Saya pernah memiliki seorang teman yang masih giat-giatnya menulis. Sangat giat malah menurut saya. Saat dia terlalu berambisi menulis dan menerbitkan bukunya, dia ingin ambil jalur cepat. Dia memakai jalur indie agar bisa cepat-cepat memiliki karya yang sudah dibukukan. Apakah itu salah? Jelas tidak. Hanya saja niat dari awal yang salah. Dari niat yang salah tersebut, mereka tidak bisa menakar mana yang untuk mental dan mana yang untuk semangat. Mental? Yep. Penulis itu tidak gampang, kawan!. Menulis itu berdarah-darah. Menghabaiskan waktu yang seharusnya untuk istirahat, menulis dan menggali ide yang jelas mempekerjakan otak, setelah selesai akan mendapat beberapa apresiasi dari para pembaca. Nah, di sinilah tulisan kita akan dinilai kualitasnya. Dan yang kita harus siapkan adalah mental yang kuat. Kita harus berlapang dada sata karya kita dikritik dengan bahasa yang sopan atau bahkan cacian sekalipun. Jangan hanya karena beberapa orang menilai tulisan kita abal-abalan dan tidak layak, kita menjadi drop dan berhenti menulis. JELAS INI YANG SALAH.

Penulis yang benar menurut sudut pandang saya saat ini adalah dia yang mau berkembang maju, terus memperbaiki diri dan bermental baja. Tetap kokoh meski diterjang angin topan. Sampai saat ini, sudahkah kawan-kawan paham dengan takaran semangat dan mental? Bila sudah paham, mari kita lanjut.

Hargai tulisanmu, Karyamu!

Di sini sebenarnya juga berhubungan dengan mental. Kenapa? Jadi gini, beberapa penulis pemula merasa malu-malu kucing untuk mempublikasikan karyanya ke khalayak umum dengan alasan malu atau merasa karyanya tidak pantas untuk dibaca. Oke. Dari sini sebanarnya saya memiliki banyak argument yang ingin saya sampaikan. Bila alasannya adalah tidak layak, bukankan sebaiknya kawan-kawan terus berlatih dan berlatih agar tulisan yang tidak layak tadi menjadi layak untuk dibaca oleh khalayak umum. Yang kedua, alasan malu? Sebentar. Jadi gini, siapa lagi yang akan memuji dan menghargai karya kita bila bukan si empunya. Jika dari empunya saja sudah berkata jelek dan malu, terus kita bisa apa saat pembaca juga tidak akan tertarik sama sekali dengan apa yang kita tulis. 

Pernah ada pengalaman begini, seorang penulis pemula, dia sudah menyiapkan mentalnya dan dengan percaya diri menyodorkan naskahnya pada teman untuk diapresiasi. Dia (penulis) bercerita dengan menggebu-gebu dan bersemangat tentang keunggulan karyanya. Si teman sendiri (pembaca) bukan terfokus pada naskahnya, namun dengan semangat yang penulis berikan. Ia seakan ingin mendapatkan bayaran dari kerja kerasnya selama ini. Bayaran yang dimaksud adalah berupa apresiasi dari teman-teman yang membaca karyanya. Dari sini, seharusnya ada ilmu yang kita petik.

Terakhir tapi bukan yang akhir, tentang Penerbit itu sendiri. Mayor or Indie?

Jadi gini, sebenarnya apapun itu penerbitnya semuanya jelas sudah bagus. Penerbit Mayor memang menjadi impian semua penulis karena akan ada kebanggaan tersendiri saat karya kita yang sudah lulus kurasi bisa mejeng di toko buku besar. Namun, untuk bisa lolos ke penerbit mayor pun tidak semudah membalik tangan. Banyak kerja keras dan usaha yang harus dilakukan penulis. Kita harus terus berkembang dan memperbaiki tulisan kita sendiri.

Nah, di sinilah kegunaan dari penerbit indie. Mereka datang dengan uluran tangan kepada para penulis yang ingin menerbitkan karyanya. Jelas tidak gratis, kan? Jangan terlalu tergiur dengan harga murah. Kenapa? Karena sebenarnya jasa itu mahal. Mereka yang bekerja di penerbitan mengeban banyak tanggung jawab, seperti pengurusan ISBN, editing, layout, cover, bahkan kepuasan dari pelanggan. Jadi, berpikirlah cerdas dalam memilih penerbit itu sendiri. Sekali lagi, kembali ke poin-poin sebelumnya. Kita juga harus teliti memilih penerbit. Kenapa? Karena di zaman dimana penulis pemula bermuculan, para penerbit indie pun juga mulai menjamur. Hal ini juga rawan terjadi penipuan. Mulai dari ISBN palsu atau uang yang dibawa kabur oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Cek terlebih dahulu penerbit tersebut di Perpsunas. Bila karya kita sudah terbit, tetap cek ISBN nya valid atau tidak.

Dari beberapa poin yang saya jabarkan, pastinya banyak kekurangan. Jadi, saya berharap akan ada masukan dari teman-teman agar artikel ini bisa disempurnakan lagi. Hal-hal yang belum saya jelaskan di sini, akan saya jelaskan di postingan lain kali. Terima kasih, kawan!.

 Probolinggo, 19 Mei 2018

Comments

Popular posts from this blog

Resensi Gustira

Resensi Novel 'Love In Twilight'

Resensi Sunyi di Dada Sumirah