Kisah Klasik Malam Sabtu

Yani, Just it



Malam tetap saja gelap. Menghitam dari timur ke barat. Pun dengan selatan hingga ke utara. Mega-mega yang tadi putih, kini turut gelap dan mendung. Suasana yang mencekam dengan jangkrik-jangkrik yang bersautan. Auman singa dan lolongan serigala semakin menghiasi jalan setapak dekat tol ini.


"Bagaimana jika kita pulang saja?" Tawar Jusud yang bulu kuduknya sudah berdiri dengan tegak. Bahkan bulu roma di sekitar lehernya pun semakin memberi kesan merinding tak menentu.


Gagas menolak. Ia semakin mengeratkan jaket kulitnya dan membenarkan sarung yang disampirkan di pundaknya.

"Sudahlah. Bentar lagi kita akan masuk ke pemakaman," ujar Gagas semakin semangat berjalan ke barat. Tepat pintu pemakaman berada.

Seharusnya mereka datang saat malam jumat kliwon. Hanya saja, malam jumat kliwon sangat serem dan menakutkan. Mental mereka tak akan sanggup bila harus meniti jalanan sepi tanpa seorangpun.

"Kamu yakin mau mengambilnya?" Jusud bertanya lagi. Merasa tak yakin dengan niat sang teman.

"Terus kamu mau nolak rezeki kita malam ini?"

Jusud menggeleng, namun sedetik kemudian mengangguk. Merasa bingung juga.

"Kita balik sajalah. Kapan-kapan kita balik lagi!" Bujuk Jusud lagi. Ia benar-benar merasa angker berada di tengah-tengah kuburan. Bumi seakan buncit kekenyangan dengan lemak-lemak yang berjejer rapi. Itulah yang dipikirkan Jusud melihat gundukan tanah itu.

"Jusud!!! Kamu kenapa, hah?! Kita hanya akan mengambil daun pohon pisang, bukan ngambil tali pocong!" Sentak Gagas yang sangat gemas dengan ketakutan temannya.

Mereka ke sini hanya untuk mengambil daun pohon pisang saja. Seharusnya memang kemarin, tepat jumat kliwon, hanya saja mereka memilih hari ini. Hari ini mereka akan aman dari para arwah setan yang bangun karena terusik.

"Isterimu itu juga gila! Ngidam daun pisang di tengah kuburan. Kan bisa sih ngidam daun pisang di rumahku," balas Jusud tak terima.

Jika Gagas bukan temannya, Jusud pasti sudah misuh-misuh pada wanita ngidam itu. Apakah tak ada yang lebih waras sedikit dari ngidam daun pisang kuburan?

"Sudahlah. Ikuti saja. Dari pada anakku ngeces."

"Sekalian anakmu seperti embek. Makan daun pisang ini," sahut Jusud dongkol.

Malam ini, telat pukul 23.14 WIB, mereka kembali ke rumah dengan beberapa helai daun pisang dari makam. Daun pisang muda yang warnanya tak boleh ada hijau dan panjangnya harus lebih dari satu meter.

Satu kata dalam pikiran Jusud, merepotkan.

Comments

Popular posts from this blog

Resensi Gustira

Resensi Novel 'Love In Twilight'

Resensi Sunyi di Dada Sumirah