Kegelisahan Tengah Malam

Yani, Just it

Hasil gambar untuk kegelisahan

Ini masih tengah malam saat aku mulai terbangun dengan suara grasuk-grusuk di lemari. Suara plastik yang seakan di cakar, kerdus yang digigit bahkan suara kertas yang ditarik paksa oleh tikus-tikus kecil. Aku jengah. Membalik badan ke kanan, suara itu masih ada. Telentang, telungkup, suara itu masih saja nyaring di telinga. Mungkin karena jarak lemari dan tempat tidur hanya setengah meter.

Aku menyerah. Kali ini aku memilih bangun dan mengumpulkan ceceran kesadaran. Meliarkan pandangan kesegala penjuru ruangan ini, aku baru ingat bahwa sejak kemarin aku belum menghidupkan ponselku sama sekali. Segera saja aku mencari ponsel tersebut dan mendapati baterainya masih separuh. Aku bersyukur namun miris juga bersamaan. Tak ada tanda-tanda pesan masuk dari siapapun, terutama dia. Dia seakan lenyap tanpa kabar. Seyogyanya aku memang mengakhiri saja semua kesemuan ini. Karena tanpa sadar, di sini aku lagi yang mulai bermain hati. Sedangkan dia, masih berdiri di tempatnya bahkan menjauh pergi.

“Aku lelah,” aduku pada malam yang semakin gelap.

Langit masih saja bercumbu dengan gelap. Pun dengan rembulan dan bintang yang asyik bercanda hingga sinarnya teramat terang. Lagi-lagi mereka berpasangan seakan mengejak aku yang hanya bisa menahan segala rindu untuknya. Mungkin harus  segera aku tuntaskan segala rinduku malam ini, akan tetapi apakah harus aku yang memulai? Sedangkan sejak dulu, aku selalu menjadi pihak yang lemah. Ah, aku mulai lelah dengan pertikaian batinku.

Tepat pukul satu dini hari, aku menyerah. Menghidupkan computer dan mulai bercengkrama dengan aksara yang selalu setia menemaniku setiap saat. Kali ini, biarkan aku bersenggama dengan rindu yang semakin menyemukan segalanya. Ilusi-ilusi emosi yang tertancap dalam pikiran dan dada. Tak ingin enyah meski telah aku coba usir pergi.

“Rindu ini harus kau bayar dengan pertemuan yang abadi.”

Seperti itu mungkin pikiranku selama ini. Pintaku padanya yang hanya bisa tersenyum tanpa kata. Tak menolak saat rindu yang kusebut peluru dalam senjata yang jitu. Menembus kulit dan merembeskan darah merah yang kental.

“Aku rindu dan lelah, lagi.” Dan malam ini aku tuntaskan segala rasaku. Berakhir dalam kata tanpa arti. Hanya coretan, luapan emosi dan segalanya. Semua aku tuangkan dalam kata-kata yang menjadikannya kalimat.

Probolinggo, 25 Mei 2018
00.10-01.00 WIB

Comments

Popular posts from this blog

Resensi Gustira

Resensi Novel 'Love In Twilight'

Resensi Sunyi di Dada Sumirah