Bersama Perempuan dan Takdirnya

(Terbit di radar mojokerto, 6 Mei 2018)

Judul  : Perempuan yang Memesan Takdir
Jenis  : Kumpulan Prosa
Penulis          : W Sanavero
Penerbit  : Mojok
Cetakan  : Pertama, Februari 2018
Tebal : VI+102 Halaman
ISBN  : 978-602-1318-65-2
Peresensi  : Agustin Handayani


Berbicara tentang perempuan memang sebuah hal yang menarik. Makhluk dengan sejuta cinta yang mengemban makna. Memerankan sejuta karakter sekaligus penyeimbang bagi kaum lelaki. Di tangannya tergenggam berbagai pilihan, antara dicintai atau mencintai, menyerah atau bertahan, lemah atau kuat. Semua pilihan itu seperti melekat bagai hukum alam. Sedangkan kita tahu bahwa manusia sangat dekat dengan takdir. Sebenarnya apa itu takdir? Apakah perempuan mengalami salah satu dari pilihan-pilihan takdir? Ketika emansipasi dijunjung tinggi sebagai langkah pembebasan rantau marginalisasi, tetap saja ada beberapa pihak yang belum menyukai persamaan derajat antara perempuan dan lelaki. Hingga kita tahu, seperti apa takdir yang melekat pada para perempuan hingga saat ini.

Dalam album prosa Perempuan yang Memesan Takdir, menyingkap sisi perempuan-perempuan yang tengah menjalani takdirnya masing-masing. Para tokoh yang masing-masing memiliki sudut pandang dalam memaknai cinta, kenangan, keluarga, budaya bahkan hubungan manusia dengan Tuhan. Keenam belas kisah dalam album prosa ini tercipta dari perenungan sunyi-lirih, liar dan acak sebagai menyelami hakikat kehidupan, utamanya pada perempuan itu sendiri.

“Tuhan benar-benar keterlaluan! Kebencian yang aku rawat ratusan hari hilang seketika. Yang tersisa hanya cinta dan luka yang kembali terbuka menyayat.” (Hal. 11)

W Sanavero membuka prosa pertama dengan judul, “Kata-Kata dan Cermin.” Dalam prosa ini tokoh aku adalah seorang penulis yang membangun sendiri dunianya dalam cerita. Tumpukan-tumpukan kertas hasil tulisannya, sering tokoh aku panggil sebagai ‘anak-anaknya’. Anak-anak yang sudah sekitar tiga ratus hari berdiam diri hingga nantinya bisa terkirim ke salah satu penerbit mayor. Tulisan-tulisan yang dihasilkan dari sebuah kesendirian, kesepian, dan air mata yang tokoh aku alami, hingga nantinya tokoh aku berharap tulisan tersebut cukup kuat membuat pembaca tersiksa setengah mati. Setelah kita membaca masalah tokoh aku dan tulisannya, kita seakan-akan terlempar pada sebuah kenangan tokoh aku dengan seorang lelaki yang pernah mengingkari sebuah janji. Lelaki yang mengajarkannya apa itu luka dan cinta. Luka yang telah ia pupuk dalam waktu lama. Namun, saat takdir menyapa dan mengembalikannya pada sumber luka dan cinta, apa lagi yang bisa perempuan lakukan?

Selesai dengan prosa pertama, ternyata W Sanavero lagi-lagi membuat sebuah kejutan pada prosa berikutnya.
AKU INGIN KEPERAWANANKU KEMBALI, pertama
Selebihnya aku ingin menjadi ibu, kedua. (Hal. 13)
Pembukaan yang benar-benar mencengangkan dan menimbulkan rasa penasaran yang tinggi. Hingga kita akan dibawa pada kisah seorang perempuan bernama Daisy, perempuan yang kehilangan keperawanannya. Daisy sendiri sering dikaitkan dengan Bunga Aster. Bunga eksotis yang selalu basah saat musim hujan. Keadaan desa yang sangat epik menjadi daya tarik dari prosa kali ini. Semua warganya yang kebanyakan sudah tidak perawan membuat kita bertanya-tanya, mengapa bisa? Hingga prosa ini sendiri yang akan membuat kita paham bahwa keadaan desa, dimana lelaki yang sering memanen keperawanan, namun enggan menikahi perempuan yang kehilangan keperawanannya. Mereka lebih menyukai menikah dengan seorang janda. Di sini, kita lagi-lagi menemukan salah satu takdir dari seorang perempuan. Janda seakan lebih terhormat dari pada seorang perempuan yang kehilangan keperawanannya sebelum menikah. Bagaimana pandangan masyarakat pada perempuan yang kehilangan perawannya yang disebabkan oleh pemerkosaan atau hal lainnya. Jelas, di sini keperawanan, adalah mahkota sendiri bagi perempuan yang nilainya sangat tinggi di mata masyarakat.

Di prosa lainnya, penulis menghidangkan sebuah prosa tentang hubungan religius  manusia dengan Tuhannya yang berjudul, Dialog Kepada Tuhan. Kita seakan mendengarkan seorang narator yang menceritakan kisah perempuan yang mengalami ketakutan hebat. Ketakutan-ketakutan pada dimensi waktu yang bernama mimpi. Mungkin seperti mimpi buruk yang enggan kita jumpai. Namun di sini, bukan hanya tentang mimpi buruk, tetap juga tentang kenangan yang tak ingin ia ingat. Mimpi menurutnya hanya sebuah bualan fiksi. Di sini, dalam ketakutannya ia tak lupa untuk berdoa. Meminta dalam ketakutannya agar mimpi tersebut tidak datang lagi. Bila memang datang, segera bangunkan dia. Sesuai dengan judul prosa ini, keterlibatan Tuhan dan doa-doa yang mencolok. Tokoh yang seakan berserah pada semua takdir. Saat semua orang terdekat tak bisa menjadi sandaran tempat berbagi, maka memang seharusnya kita meminta dan berserah pada Tuhan. Meminta dengan segala kesungguhan hati. Namun, meminta tanpa ada usaha tetap saja omong kosong. Di sini, tokoh mulai membuat kenangan baru agar kenangan sakit tersebut bisa tergantikan.

Beberapa dialog maupun monolog dapat membuat saya ketagihan untuk terus membaca album prosa ini. Bagaimana tentang seorang perempuan yang menyikapi takdirnya, baik dalam hal cinta, sosial, dan hubungannya dengan Tuhan. Semuanya seakan tertata dan terhidang dengan sangat menggiurkan untuk dibaca.

Alur yang mengalir membuat saya bisa memahami dengan mudah album prosa ini. Ketertarikan akan setiap judul membuat saya bertanya, ada pesan apa lagi setelah ini? Sebenarnya jika kita mau membaca dengan hati-hati tanpa didahului oleh protes tentang sikap dan sifat para perempuan dalam album ini, kita akan tahu bahwa perempuan memang identik dengan hati. Lemah dan pasrah. Namun, yang terpenting lainnya adalah sikap kita sebagai para pembaca. bila kita hanya asal membaca, menutup buku setelah selesai, maka kita tak akan pernah tahu maksud dari album prosa ini. Namun, saat kita memahami bagaimana alur-alur dan sikap perempuan dalam karya ini,  kita akan paham bahwa kisah tersebut mengandung pesan yang mendalam bagi para pembaca, utamanya perempuan. Meski sebenarnya bukan hanya perempuan saja yang harus membaca album prosa ini, lelaki juga harus membaca agar mereka tahu apa takdir yang berteman dengan perempuan.


Comments

  1. "Tuhan benar-benar keterlaluan, kebencian yang kurawat ratusan hari hilag seketika. Yang tersisa hanya cinta dan luka"

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Resensi Gustira

Resensi Novel 'Love In Twilight'

Resensi Sunyi di Dada Sumirah