Kisah (tak) Berjudul


Mungkin beberapa orang tak akan tau bagaimana sebuah kisah menjadi pengalaman diri. Tak akan ada yang tahu, bahwa bayang-bayang berada di belakang waktu. Detik yang berotasi menjadi jam sebagai bukti, ia melangkah terlebih dahulu dari raga.
Carilah jawabnnya pada kisah Yani. Besok, dia ulang tahun. Umurnya semakin berkurang. Ibarat balon, udara semakin menipis. Yani memiliki darah, menggumpal di saraf hingga ia lupa berpikir.
"Bunda, besok apakah Yani masih terbangun?" tanyanya lebih kepada dirinya sendiri. Selalu ada ketakutan nyata bahwa besok ia terbangun dengan kafan pada tubuhnya. Ia takut, takut pada dosa yang belum ia sucikan.
"Bangunlah di sepertiga malam dan berdoa. Kamu akan selalu dekat dengan-Nya."
Hanya itu kunci hidup bagi Yani. Ia hidup di bawah kaki penyakitnya. Diperbudak oleh pil-pil yang jumlahnya bahkan tak terhitung lagi. Yang Yani tahu, besok adalah sebuah ketidakpastian dari waktu.
Bila besok ia terbangun, ia bersyukur. Tapi, bila besok Yani tertidur, maka doakan surga terbuka untuknya. Di umurnya besok, bila manusia berpakaian putih itu benar, maka seharusnya kafan menjadi pakaian terakhirnya. Besok, Yani akan berpulang.
Dan, apakah kalian percaya pada keajaiban? Maka, Yani akan bercerita apa itu keajaiban di malam berikutnya.
Probolinggo, 23 07 2018

Comments

Popular posts from this blog

Resensi Gustira

Resensi Novel 'Love In Twilight'

Resensi Sunyi di Dada Sumirah