Bedah Buku 'Tanjung Kemarau" karya Royyan Julian



Tepat hari Sabtu, 10 Februari 2018 di Pelantaran Togamas Probolinggo tengah ramai oleh muda-mudi Probolinggo. Dari jam 10.00 WIb, sudah nampak beberapa bazar yang memenuhi pelantaran tersebut. Beberapa diantaranya menjual baju-baju asli Probolinggo, buku terbitan lokal, dan aneka makanan. Sebenarnya hari ini bukan inti dari Bazar itu yang akan saya bahas. Namun, lebih ke acara inti, yaitu Bedah Buku karya salah satu penulis hebat Royyan Julian. Beliau lahir di Pamekasan, 3 Juli 1989. Memiliki Profil yang sangat mengagumkan dan bisa dijadikan contoh bagi kami semua khususnya yang sudah hadir dalam acara tersebut.

Acara yang disusun oleh salah satu komunitas di Probolinggo, KOMUNLIS. Komunitas menulis tersebut dengan sangat bangga mengundang Royyan Julian untuk membedah salah satu bukunya yang berjudul, Tanjung Kemarau yang terbit 2017 oleh Grasido. Novel yang berkisah tentang lokalitas Madura. Dalam novel tersebut bahkan di bahas beberapa mitos, perjalanan politik, agama dan surah, hingga kepedulian masyaraat setempat etrhadap ekologi.

"Saya baru tahu jika sapi yang mengikuti kerapan harus ditusuk dengan paku," ucap Kak Yetti selaku moderator dalam bedah buku tersebut.

Dalam penjelasannya, Kak Royyan menjabarkan beberapa realita yang berada dalam lingkungannya. Alur yang apik dan mengesankan membuat kita tak akan bosan untuk mebacanya. Seperti yang dikatakan penulis, Novel tersebut bermain alur dimana seakan tokoh dalam setiap bab ingin menjadi tokoh utama.

Dalam kesempatan bedah buku tersebut, beberapa peserta bahkan bertanya dengan sangat antusias dengan kehadiran novel tersebut. Mungkin penasaran dengan sosok Walid, Lokalitas Pamekasan yang kental dalam novel tersebut, pemilihan tokoh utama yang seorang guru, hingga pertanyaan tentang riset dan kendala dalam membuat novel tersebut.

"Menulis itu berdarah-darah," ungkap Kak Royyan Julian saat ditanya tujuan beliau menulis. Apakah untuk kesenangan diri sendiri atau pembaca dan bagaimana bila banyak kritik yang masuk.

Kak Royyan dengan senyumnya menjawab bahwa penulis memang membutuhkan kritikan dalam karyanya. Karya yang hebat, ialah yang mendapatkan Apresiasi dari pembacanya. Entah baik atau buruk.

"Memiliki target mmebaca 120 buku selama 2017, namun sayang, saya hanya bisa membaca 108 buku," sesal Kak Royyan saat ia menjabarkan kunci dia menulis. Dengan gamblang kak Royyan berkata bahwa jadilah pembaca yang hebat agar bisa menjadi penulis yang handal.

Diperujung acara, ditutup dengan pembagian doorprize bagi peserta teraktif dan sesi foto bersama. Disitulah saya sebagai peserta Bedah Buku memiliki kesempatan foto bersama dengan Kak Royyan Julian sekaligus berbagi tips dan pesan singkat dalam menulis.

Petang pada Malam Minggu yang sangat berfaedah dan mengesankan bersama KOMUNLIS, Kak Royyan Julian, dan para bibit penulis dan pejuang literasi lainnya.

Next Time, akan ada bedah buku tentang salah satu buku hebat lainnya di tempat yang sama, dan insya allah tak akan kalah meriah.

Untuk Kak Royyan Julian, terima kasih ilmu dan semua saran yang bermanfaat hari ini
Komunlis, tempat yang mewadahi literasi daerah
dan Semua Peserta yang akan menjadi bibit-bibit kesuksesan dimasa yang akan datang.




All Photos By Kak Yetti
Salam Literasi semua,

Nay

Comments

Popular posts from this blog

Resensi Gustira

Resensi Novel 'Love In Twilight'

Resensi Sunyi di Dada Sumirah